
C E R U T U B A Y I
Kilau bening sebuah potret memantul ke bola mata gadis yang tertegun di depannya. Coklat. Bulu matanya yang lentik dan alisnya yang runtut satu-persatu gugur, menyisakan kelopak. Dan rambut hitamnya yang tergerai pun satu persatu mulai runtuh. Membuat rumah beserta tanah dan langitnya.
“Kau mau menikah, nak?”
“Pernikahan adalah permainan besar, bu.”
“Ya, permainan yang indah, bukan?”
“Tidak ada yang lebih indah selain keabadian.”
“Kalau kau ingin keabadian, terima apapun pemberianNya.”
“Apa itu sebuah pilihan?”
“Bukan pilihan, tapi opsi tunggal.”
“Perintah-perintah itu,” gumamnya sambil melihat reruntuhan bulu matanya melayang perlahan. Ringan. Entah inti atau bayangan, hitam atau putih, yang utuh atau yang hancur, yang kiri atau yang kanan, laki-laki atau perempuan. Tiba-tiba bulu-bulu itu melecutkan api. Membakar habis diri seolah tak mau dikenali.
“Iya,” ibunya mengangguk, “tapi ada tempat bagi mereka yang taat yaitu Surga.”
“Penyelamatan. Apa ibu tahu dimana tempat keselamatan itu?”
Wanita itu menggeleng.
“Tapi hal itu ada dalam perjanjian, nak. Dan hanya perjanjian-Nyalah yang tepat.”
“Perjanjian itu adalah protokol dan jackpot! Seperti kertas prosedur di kotak balsem, sirup pereda batuk, atau di kardus televisi berwarna. Semua yang bernyawa dan tak bernyawa adalah konstruksi lunak yang terkonspirasi. Dan manusia berada dalam situasi yang terjebak. Terpaksa! Semua itu adalah harga mati, menjadikan keyakinan hanyalah sebuah kepasrahan sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang sepertimu,” derunya, “tidak menguntungkan sekali, ya bu?”
“Bukankah kita memang harus begitu? Berserah diri?”
“Tuhan tidak kompromis sekali. Hentikan saja doa-doa itu! Kapan kita akan menghentikan semua ini?” ketusnya.
Wanita itu menahan nafas. Melihat sorotan mata anaknya yang mulai benderang seperti serpihan kaca landip yang siap menancap. Namun perlahan ia meluruhkan binar linang matanya, sayup-sayup sampai.
“Aku akan membebaskan diriku sendiri!”
***
PERCIK-PERCIK hujan melecit-lecit dari tumit merah perempuan, mengalir darah dari selangkangannya yang basah. Luntur namun kian mengental. Perempuan ini terus berlari merasakan sakit yang tertinggi, memegang erat lingkar perutnya tanpa menghitung darah yang tumpah, dan berapa kegagalan yang pecah karena tak tertahankan. Ia terengah-engah di aspal licin dan hitam. Menembus kepekatan awan dan patukan hujan yang menumpahinya serapah. Ia tak lagi ingin berhenti setelah berhasil meloloskan diri dari rumah kelahiran sekaligus kematian di pertengahan usia pernikahannya di alun-alun kota lima belas menit yang lalu. Sepuluh tahun sudah ia mengubur hasratnya hidup-hidup dan melihat perulangan perbudakan dari sejarah lampau. Perempuan ini sudah lelah merekam semua peristiwa tanpa kesaksian. Termasuk rasa sakit di selangkangannya. Lima belas menit lagi, ia akan sampai ke rumah dimana dia akan merayakan ulangtahun dan memungut kepingan peristiwa yang sejak lama tercecer sekaligus menggandakan kesedihan pada orang-orang yang dikenalnya. Sebentar lagi, seusai hujan.
Tapi tiba-tiba ia terhenti, terdedah ketika darah yang mengalir di urat nadinya adalah warisan. Ketika tulang belulang dan daging mengkalnya adalah sebuah dinasti. Tiba-tiba ia harus membaca sejarah dan mengukir ulang prasasti-prasasti yang terberi. Apakah harga prasasti-prasasti itu cukup membayar semua keletihan dan sisa umurnya kelak. Apakah darah-darah yang mengalir deras dan panas di tubuhnya sebagai pertanda bahwa rasa sakit memang bagian dari skenario hidupnya. Apakah tiga puluh menit terbentang aspal lurus yang sebentar lagi akan mengering adalah usaha mendapat jenak waktu, yang pada akhirnya akan kembali ke jalan lima belas menit yang lalu. Semuanya berakhir di tengah.
Ia melihat wajah-wajah asing melewatinya, yang tanpa menerka atau berusaha mencerna ketertegunan dirinya. Ia masih di tengah, mungkin sampai trotoar diterangi sinar neon dengan kepungan serdadu laron atau mungkin juga sebentuk bulan separuh bayang. Disitu, ia tersesak dan sesat dalam kelangkaan waktu yang semakin ditepis semakin tipis. Ia tak bisa lagi menghitung deret angka yang mulai kembar dan menyatu di ruas bentang ruang, terhimpit dalam jejalan-jejalan koridor hitam yang memudar. Ia mengira dirinya kuat walau isak tawa dan airmatanya merupakan pengingkaran, meski sepuluh tahun adalah bukti kekuatan sekaligus kerapuhannya. Mungkin, jalanan adalah sisa tunggal yang tak kan pernah tersisihkan dari angka usianya. Disitu, ia menjadikan dirinya bagian dari produk publik dan tayangan atraktif dari ide-ide cerita film di layar-layar kaca. Mengetahui ternyata dirinya adalah figuran dungu dalam serial-serial perang kolosal dan pembantaian-pembantaian global di tengah kecerdasan humanitas hibrid, ditengah hubungan manusia dan alam yang interaktif dan reaktif. Ia adalah tragedi di tengah lelucon-lelucon lucu yang tak pernah tahu mengapa bergulir dalam satu waktu, semakin lebur semakin brutal, semakin membaur semakin vagu.
Ia dinamai Je. Terkulai gigil di anak tangga lapuk, mengunduh embun menjadi bongkah-bongkah uap pelipis. Sebenarnya daun pintu rumah itu membuat ketegarannya lebih cepat remuk dan bel membuat kerapuhannya lebih cepat ambruk, namun bila saja embun-embun di kaca jendela membuat wajahnya samar serupa bayang, ia tak kan pernah takut apalagi tunduk. Ingin sekali ia mengejawantah menjadi daun sirih yang menjalari rusuk-rusuk jendela, entah stomata atau endapan organik yang becek. Setidaknya, ia bisa lebih punya tempat untuk belajar.
“Aku butuh tokoh yang lebih sadis!” gumamnya sambil meletakan puntung kepala orok merah yang masih berkerak plasenta di depan pintu. Berdarah. Meski hujan mengguyur, darah kental di jari-jemarinya masih melumur.
“Aku akan membunuhi semua makhluk rancu ini! Membuat dunia tak mudah membusuk! Mengabadikan kutukan tanpa ada penawar. Harus ada yang menghentikan perbudakan ini. Harus!” jeritnya dalam hati, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang terkuras.
Kepala bayi yang terputus dari badannya itu mirip bola kempis yang berkubang lumpur walau jibaku wewangian rahim masih lulur.
Je nyaris mengetuk pintu itu sebelum lantunan instrumen klasik dari basement tiba-tiba menyergap. Ia merasa terperangkap. Melodi seperti itu hanya nikmat didengar saat minum teh atau saat dikecup kekasih yang merindu. Tapi nyatanya melodi itu berasal dari dalam tanah, yang justru merdu di ruang kedap nan lembab, yang justru lebih indah tanpa asosiasi. Tanpa resonansi.
Je terkesima, perlahan menuju pintu kayu setinggi pohon waru di basement rumah yang mengerak pilu dan menyusuri koridor gelap nan renta di dalamnya. Beberapa meter di depan, ia temukan sebuah ruang persegi abu-abu dengan sebentuk panggung bundar mirip altar pembaptisan. Di tengah panggung itu, seorang laki-laki muda, tampan dan eksotis sedang asyik memainkan jemarinya di atas gigi-gigi piano. Menciptakan laju nada yang seakan tak berujung, tiba-tiba largo namun harmonik, tiba-tiba alegro namun periodik. Not-not itu lahir dari hembusan nafasnya. Bila tertahan, seketika senyap. Bila lepas, sebilah jiwa terhempas. Je semakin mendekat, menyimak dan terpejam sejenak, sebelum semua terhenti.
“Pernah dengar simfoni ini?” tanya laki-laki itu. Je membuka mata, melihat jemari lelaki itu tengah tertahan.
Je menggeleng.
“Ini sebuah pertautan antara imajinasi dan ambisi yang tak terkendali, pertalian antara pertentangan dan kepatuhan, ketidaksesuaian impian dan harapan dengan kenyataan, dan antara kegagalan dengan keberhasilan, mencapai tingkatan sosial yang lebih tinggi,” tegasnya.
“Aku pernah mendengar kalimat itu,” ucap Je.
“Tentu saja. Itu dari sebuah buku yang ditulis dengan intuisi. Dan aku yakin kau sangat akrab dengan simfoni ini meski tak kau sadari. ”
“Aku tidak butuh gagasan pesimistikmu,” sela Je, “aku tidak tertarik dengan pencapaian dalam hubungan sosial.”
“Kalau begitu kau orang yang kunanti-nanti sejak lama,” katanya.
Je mengernyit.
“Orang yang kejam seperti dirimu, manusia yang berkondisikan rasa muak ketika dilanda romantisisme,” lanjutnya.
“Bukannya apa yang kita mainkan berarti itu yang sedang kita harapkan?” tampik Je.
“Aku butuh penyeimbang. Apa itu terlalu mustahil bagimu?”
Je perlahan menggeleng. Ragu, “karena kau orang yang selalu gagal dan menjadi lemah, iya kan?” sekaligus menelanjangi kepribadian lelaki itu. Menganggap kegagalan merupakan titik akhir dari suatu usaha yang sia-sia.
Lelaki itu melempar senyum ironis. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan mengelilingi panggung. Begitu tenang.
“Seperti salammbô, Madame Bovary, Bouvard et Pécuchet, atau bahkan terperosok seperti Mathieu?” kata laki laki itu.
“Eksistensi yang menyedihkan, bukan?” tambah Je, menyembunyikan diri.
“Iya ya ya, aku hargai perspektif sinismu itu!” akunya, “tapi aku juga ingin tahu akhir seperti apa yang dipersiapkan duniamu, apakah seperti sebuah malaise dan solitude? Yang sebelumnya dimulai dari perjuangan patetis yang menggelikan?”
“Maksudmu?” tanya Je heran.
“Mencoba melukiskan unsur tragis dari suatu keindahan, menentang kekosongan kosmik, kediaman dan diamnya Tuhan. Tidakkah kau sadar kau sedang bermain-main dengan dirimu sendiri? Dipermainkan dan memainkan dirimu sendiri?” ungkapnya seolah menyergah.
Je tersentak.
“Karena kau merasa itu menggelikan,” tangkis Je.
“Dan juga kekonyolan!”
“Ini kebenaran!” teriak Je, “kebenaran yang tidak setiap orang tahu dan bisa pecahkan!”
“Dengan mempelajari berbagai semangat dan menonjolkan protes atas kondisi mahluk sejenismu?” tancapnya.
Je terdiam.
“Hipotesamu tak berimbang, manis. Duniamu adalah sebuah keindahan yang tragis. Dan dirimulah unsur tragis itu,” ungkap lelaki itu, “kau menyedihkan,” lanjutnya.
“Cukup!” Je geram, “orang-orang tetap tidak akan bisa menyangkal datangnya kematian, ketidakadilan, dan penderitaan, yang selalu menjadi rahasia yang sangat sulit dipecahkan,” ketus Je, “dan kau tahu seberapa sulit itu?” Je menatap tajam dan lirih, “kau tidak pernah tahu!”
“Sikap pemberontakmu itu yang justru memperbudakmu,” tangkisnya lagi, “kau harus berusaha melawan itu.”
“Dengan tunduk pada segala yang sia-sia?”
“Itulah seni yang memperlihatkan kemenangan manusia melawan segala sesuatu yang berusaha memperbudaknya,” kata laki-laki itu cepat.
“Bagiku itu bukan perlawanan, tapi kepatuhan. Represif!” ketus Je, “lagipula teori kita berlawanan. Bukanlah tunduk pada kesia-sian, tapi melawan kesia-siaan itu. ”
Laki-laki itu terdiam, mencerna dan menyadari sisi lemah teorinya yang ternyata memang berkebalikan. Tak ada titik temu, akibat dari rotasi kesia-siaan yang terinklusif dengan kegagalan, menjadi patuh atau berontak. Harus patuh untuk menang kemudian menjadi berontak untuk menang, atau sebaliknya. Ternyata tidak selalu kemenangan tampak dari kepatuhan tapi melainkan justru kembali ke hakiki kemenangan itu, dari perlawanan.
Mereka sama-sama diam, sebelum Je berbalik menarik diri.
“Je sang révolte!” teriak laki-laki itu.
Je terhenti.
“Aku ingin bertemu denganmu lagi! Karena bertemu denganku kau akan mencium kehadiranmu sendiri,” lanjutnya penuh misteri.
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu sedangkan aku seorang révolte dan kau seorang roman yang represif?”
“Itulah keindahan!”
Je terdiam. Mendengar keindahan yang tak terdefinisi itu baginya buang-buang waktu. Ia benar-benar keluar, kembali ke dunia kosmik tanpa logic yang penuh montase-montase esoterik.
“Tunggu, darimana dia tahu namaku?”
Montase Awal
SINAR matahari yang menyelusup kaca jendela kelas tak membuat Je terjaga. Riuh suara teman-temannya pun tak lagi terdengar jelas. Dinding yang membentangi foto-foto pahlawan nasional, peta dunia, not-not lagu daerah, dan etnograf alam, mengurungnya dari benda-benda radikal yang berkeliaran diluar. Tepat di sudut kanan atas, tata tertib kelas, foto presiden, bendera, dan tampuk burung garuda, berhasil membuat Je tercenung.
“Je, sedang apa kau?” sentak guru yang ada di depannya.
Je terjaga, dan langsung melihat tatapan bening dari balik kaca mata putih mengkilau karena pantulan sinar siang.
“Saya lagi belajar, bu,” jawab Je ketika segala pasang mata sudah menancap ke tubuhnya.
Bel pun mengakhiri penyelidikan dan pelucutan dirinya. Semua teman-teman sekelasnya bergegas merapikan buku lalu berhamburan keluar meninggalkan Je dan gurunya. Mereka saling pandang hingga Je perlahan memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
“Ibu sangat kecewa denganmu, Je,” ungkap guru yang berbalut kemeja putih ala victorian dan cardigan hijau lumut.
“Kenapa, bu?”
“Nilai-nilaimu anjlok. Kau nyaris menjadi juru kunci di kelas ini,” jelasnya.
“Mungkin aku cuma jenuh dan capek, bu. Aku janji akan belajar dengan rajin,” katanya.
Guru cantik dan langsing itu mendekat. Mengamati.
“Kau punya semangat itu. Kau memancarkan aura mentor dan gairah motivasi yang sangat kental, Je. tidakkah kau sudah melihat siapa mereka?” kata sang guru dengan pandangan yang terfokus, serius.
“Mereka jauh di belakangmu. Mereka memperhatikanmu. Bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu,” lanjutnya.
“Mereka hanya ingin tahu keadaanku, tidak lebih.”
“Tidak Je. Mereka kehilanganmu. Seorang pelopor kebangkitan, kreator piawai, pencetus gagasan-gagasan mutakhir, semacam itulah,” katanya.
Je tertunduk.
“Keluarlah dari ruang gelap itu Je. Jangan biarkan dirimu terperangkap dan tersesat. Lihat sekelilingmu dan kejarlah itu. Sesungguhnya itulah yang nyata Je! Kenapa kau tidak bisa sedikit bergegas dan merebut kembali prestasimu?”
“Aku lengah, bu. Maaf.”
“Je Fortis!” sergahnya, “jangan sampai ibu menempatkanmu ke kelas E.”
Je tertunduk, “iya bu, lebih baik menjadi orang bodoh diantara yang pintar daripada orang menjadi orang pintar diantara yang bodoh,” jawab Je perlahan mengulangi kata-kata sang guru tempo lalu.
“Bukan itu, Je. Kau bukan anak yang pasif dan statis. Kau sangat aktif dan dinamis. Progresifitasmu mengagumkan. Konsep itu tidak cocok denganmu,” katanya sambil menggeleng.
“Apa yang ibu lihat dariku?”
“Aku,” jawabnya cepat.
Je terdiam melihat bola mata gurunya yang memantulkan wajahnya. Wajah je yang bingung dan ragu.
“Kau hanya butuh keyakinan, prinsip, dan idealisme,” lanjutnya.
“Aku belum siap dan belum menemukan apa-apa. Mungkin suatu saat aku akan mencobanya,” jawab je.
“Kenapa? Dan kenapa tidak sekarang?”
“Mungkin karena aku tidak suka membicarakan orang lain,” jawab Je yang merasa gurunya itu juga membicarakan dirinya sendiri.
“Apa maksudmu?” katanya dengan kening yang mengkerut.
“Kau sedang merisetku, semua ini tentangmu kan?”
“Aku pernah berada di posisimu dan kau bisa menempatkan diri diposisiku. Aku sangat konsen dan idealis saat ini, dan aku juga bukan tiruanmu,” katanya seperti membela diri.
“Semangat ini mungkin hanya sebagian kecil. kau tidak bisa menguasai aku, menguasai semangat-semangat yang lain di diriku,” jawab Je.
Guru berambut panjang hitam itu mencorong. Alis-alisnya mekar karena dahinya yang mengernyit sempit, membuat bola matanya tenggelam.
“Terimakasih telah memperhatikan aku. Maaf aku tidak bisa menjadi sepertimu,” lanjut Je. Ia kemudian beranjak dan keluar kelas.
“Kau hanya memandang aku sebelah mata Je. Kau tidak sadar bahwa akulah yang kau cari,” kata sang guru meyakini.
“Aku tidak pernah mencarimu.”
“Lalu kenapa kau memilihku sebagai seorang guru?” tanyanya, “tidakkah kau lihat aku begitu getir dan gigih?”
Je menggeleng, “aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Kau tidak punya seni dan sangat mengatur. Kau membosankan!”
Guru itu terdiam. Je bergegas keluar dengan lancang.
Montase 2
MEJA jati bundar berseprei kafan berjajar di sepanjang tepian pesisir pantai. Orang-orang datang hanya untuk satu tujuan, bercengkrama sambil berpura-pura mengagumi genital air benua. Mungkin diantaranya selepas bercinta, mungkin juga baru saja berpisah. Je ditengah mereka. Sendirian. Mencoba merahasiakan karya yang baru saja hendak dirilisnya. Sebuah karya panggung tanpa teks, hanya dialog-dialog yang sesungguhnya monolog dalam sebuah drama asuhan.
Belum sempat memulai, seorang pramusaji wanita mendatanginya dengan senampan menu istimewa. Sepiring hidangan yang mendarat di mejanya mencuri perhatian Je dari ombak. Ia mencerap sepenggal kenikmatan tak tertandingi dan tak terkalkulasi oleh nalar di dalam sebongkah daging di piringnya. Tapi terkadang gairah nikmat datang bukan dari hidangan, melainkan lebih jujur dari perutnya. Perut yang sesungguhnya sama saja dengan muara laut di tengah samudra yang gencar orang bilang Bermuda. Perut adalah muara bagi Je, tempat prosesi hasrat yang memompa semua gejolak.
“Silakan menikmati,” sapa pramusaji itu.
Je tersenyum tipis. Ia lalu mencicipi daging asap yang dilumeri kecap bawang kental plus merica India. Setelah sampai di titik area pengecap, keningnya berkerut membuatnya berhenti mengunyah. Je segera meneguk jus jeruk untuk membinasakan rasa yang membakar lidahnya. Apa boleh buat, sikap lebih dianggap fakta daripada niat, selain lebih kentara dan nyata.
“Sialan! Makanan apa ini?” kutuknya sambil melepeh.
Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya, proporsional dan gempal, duduk di hadapannya. Je bingung, bukannya satu meja hanya boleh dikuasai oleh satu pemesan saja.
“Siapa kau?”
“Orang sedang kau hina,” jawabnya.
Je mengernyit. Ia tidak merasa mengatakan apa-apa.
“Suara yang tak terdengar oleh orang lain darimu, itu juga perkataan,” lanjutnya.
“Darimana kau tahu?”
“Darimana kau tahu itu masakanku?” tanyanya balik.
“Aku baru tahu ini masakanmu justru karena kau kesini.”
“Kalau begitu, itu bukan masakanku,” tampiknya.
“Hei kau bersilat lidah. Kau laki-laki tua yang benar-benar payah!” ketus Je.
“Mungkin karena iblis dan pasukannya bermukim di dapurku,” lugasnya.
Je semakin tidak mengerti.
“Mereka memang ada dimana-mana kan? Beruntung sekali kau bisa melihatnya di tempat nyaman dan rindang seperti ini.”
“Apapun yang kau bicarakan, menurutku itu sebaliknya. Sangat tidak beruntung dan bisa membuat putus asa keyakinan seseorang.”
Lelaki tua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk.
“Apa kau tahu kalau Iblis itu sangat pandai? Dan dengan kepandaiannya dia akan membela dirinya dengan memainkan dalil, teori-teori, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat sesungguhnya merupakan keadilan menjadi tidak adil, walaupun hati nuraninya tahu bahwa dirinya bersalah,” katanya, “Dan Iblis yang membuat keadilan terlepas dari sifat adilnya itu hidup di tengah meja ini.”
“Sepertinya ini bukan pembicaraan tentang masakan,” kata Je dengan sorot tajam, “maaf aku tidak ingin berbicara tidak pada konteksnya.”
“Konteksnya adalah penghinaanmu,” katanya.
“Oh jadi maksudmu aku berkonspirasi dengan iblis yang terkualifikasi olehmu itu?!” kata Je melotot, “kalau kau masih bisa menghargai orang, silakan kembali ke asalmu bekerja. Ini adalah area klien dan meja ini adalah otoritasku!”
Lelaki itu hanya tersenyum menggeleng, geli dengan spekulasi Je yang tanpa disadarinya justru menampilkan masalah baru. Amarah Je berombak. Pantai meluaskan durasinya.
“Permasalahan jadi ganda. Ternyata kekuasaan adalah salah satu akta penting pemenuhan keinginan. Apa dengan mengusir adalah metode menghargaimu?”
“Bukan, tapi cara mendapat penghargaan.”
“Jadi kau menggunakan kekuasaan untuk bisa terus melancarkan dan mensyahkan penghinaanmu?”
“Aku hanya tidak mau diganggu!”
Laki-laki itu diam, “Baiklah, tolong hargai makanan itu,” katanya sembari beranjak dan tersenyum ramah, sementara Je mengatur amarah.
“Hei tunggu! Apa kau akan menggunakan kekuasaan kalau aku menghina dapurmu, seperti keberanianmu memperingatkan aku di wilayah kekuasaanku?”
“Lebih baik, aku menghargai. Tapi yang paling baik, kau tidak menghina,” katanya, menganggap sikap menegur keburukan meski di wilayah orang lain adalah lebih baik daripada melakukan keburukan di wilayah orang lain.
“Siapa sebenarnya kau?”
“Sebenarnya, aku datang hanya untuk membicarakan masalah selera. Aku jelas seorang koki disini, yang penyantapnya tidak ingin tahu siapa dia, tapi kau sudah memikirkan tentang masakanku. Itu sudah cukup bagiku,” katanya.
“Maksudmu?”
“Bisakah kau pikirkan sendiri maksudnya. Kenapa aku selalu harus menjawab keherananmu itu,” ketusnya, “kau benar-benar parah.”
“Maksudmu?”
“Ehm pertanyaan itu lagi,” katanya, “kau tidak menyadarinya, dan itu sangat buruk sekali.”
Je berpikir keras. Jelas ia berpikir keras, untuk sesuatu yang dengan menyadarinya saja akan membuatnya terbunuh. Bagaimana ia bisa berhasil jika pertentangan demi pertentangan saja belum bisa menolongnya. Pertanyaan-pertanyaan pada pertemuan-pertemuan itu.
Koki itu kembali duduk, “sudahlah! Tidak usah terlalu dipikirkan.”
“Inilah masalahku sejak awal aku memutuskan menjadi koki. Masalah selera menghantuiku setiap kali aku memasak. Aku selalu memikirkan seperti apa penyantapku dan bagaimana tanggapan mereka. Apakah enak atau sebaliknya,” ungkapnya.
Je masih menyimak.
“Tapi lama-lama aku tidak harus mengetahui bagaimana selera mereka, tapi memilih satu selera yang menyatukan penyantapnya sendiri. Aku tidak perlu memenuhi rasa apa yang sebenanya mereka ingini, tapi justru memberi satu selera yang akan menjadi selera yang mereka ingini. Aku hanya harus memilih dan tetap mempertahankannya.”
“Mereka mengenalku hanya dari selera makanan ini,” katanya.
“Kau hanya tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka pasti punya pendapat yang tidak perlu mereka katakan. Mereka pasti juga merasakan dan bertanya-tanya seperti aku.”
“Iya kau benar,”pikirnya, “tapi kenapa aku tidak menemui mereka?” tanyanya sendiri dengan pikirannya. Je pun menjadi ikut mencari jawab.
“Mungkin…,” kata Je sambil berpikir, “karena aku tidak satu selera denganmu, juga dengan mereka.”
Laki-laki itu tiba-tiba menguncup sangat katup. Kecewa.
“Kau tidak suka cita rasa yang aku tawarkan?”
“Tenang saja. Aku memang tidak pernah satu rasa dengan koki-koki lainnya,” jawab Je.
Sang koki bertambah berat. Kerut keningnya berlipat-lipat. Ia merasa tidak bisa apa-apa lagi dan tidak ada gunanya berlama-lama berbicara dengan Je.
Sang koki bangkit perlahan sambil menganasir. Parasnya bingung dan nyaris putus asa.
“Kau mau kemana?”
“Ternyata masalah selera adalah masalah yang kecil sekali. Tidak bisa mengubah seseorang sedikitpun,” katanya dalam kekosongan.
Je terdiam. Hambar.
Montase 3
UNTUK selang beberapa waktu, yang disebut sebagian sejarah dari waktu Je adalah jalanan. Di bawah senja sandikala yang membengkak, angin pasat seolah tak henti bertiup membabas lintasan equator, melewati Je yang masih tertegun menonton kantung plastik melenggak-lenggok di tengah pertarungan angin yang sengit tepat di tengah dinding yang coret moret; Intan Pangkas Jembut, Respect Female, Ibuku Lonte Radikal, Blank Rhetoric, Burit Emak Loe, Angga Love Imel, Germo India, City Disturbance, Kontol Letoy, Menetek Mamak, Vagina Babi Rawa, Tsui Vietcong Kebon, Classic Sex, Seleb Kampus, Kiss my Ass Bush!
Tak jauh darisana, seorang pria tambun dengan rambut membalur kapur sibuk melukis batok kepala yang dijejali banyak indera tak beraturan. Mata di bawah bibir, hidung diatas mata. Bibir di atas hidung, mata dan hidung setara. Alis di pipi kiri, bibir di ubun-ubun. Mata di pipi kanan, bibir di batok kening, hidung menggantung di dagu. Telinga dan mata menyatu. Telinga tersebar dimana-mana, menjadi bibir menjadi mulut. Alis di bawah mata, satu telinga menjadi rungu. Mata di ujung sayap telinga, melihat telinga dari ujung mata.
“Apa judulnya?” tanya Je dengan kernyit tebal.
“Elipsoid. Karya suatu zat yang sedang kau pertanyakan,” jawabnya sambil menggores kuas, “siapa namamu?”
“Je Loges,” jawab Je.
“Je Loges, kau tertarik dengan karyaku ini?” tanyanya.
“Apa ini sebuah stigma?”
Pelukis itu tersedak karena tawanya yang nyaris meledak.
“Kau pikir aku seberuntung itu? Aku cuma kotoran tikus dari bayi-bayi cecurut tua, nak.”
“Ini membuatku mencoba mencari dimana aku,” kata Je.
“Kau tinggal hitung saja dan letakan dimana mereka semestinya berada,” jawab si pelukis.
“Tidak semudah itu, tidak boleh ada banyak mata, telinga, hidung dan mulut dalam satu kepala.”
“Kenapa kau bingung? Itu adalah dimensi yang sebenarnya berfungsi sama. Dimensi itu akan melepaskan diri dan menjadi diri mereka yang tanpa kontaminasi apa-apa jika bertemu dengan karakter yang cocok.”
“Sebanyak apapun yang mereka ingini?” tanya Je.
“Iya, sebanyak apapun.”
Je tertunduk. Takut karena sadar begitu kejam organ-organ itu.
“Aku tidak mau seperti ini. Bagaimana caranya?”
“Prinsip dan komitmen atas pilihan yang kau yakini.”
“Akan ada sedikit sekali yang cocok denganku,” kata Je.
“Yang murni itu tidak seribu atau pun sejuta Je, tapi satu.”
Je menyimak.
“Jadilah pertapa. Kau akan sangat bebas dalam kesendirian,” katanya, “dan yang terpenting, akan hanya ada satu sudut pandang yang mengklaim siapa dirimu. Kau akan dikuasai dirimu yang benar-benar menginginkan dirimu. Kau tidak bisa meninggalkan itu meski banyak sudut pandang yang bertolakan namun benar, banyak pantulan yang tercerap sempurna namun semata dari kamuflase dunia,” lanjutnya.
Je runtuh. Dirinya tiba-tiba tak utuh. Seperti tualang-tualang yang masih sangat jauh dan akan sangat membuatnya jenuh. Bukan hanya karena rumit tapi juga sengit.
Montase 4
DERAP langkah Je menghempas debu, membuat jejak-jejak tertinggal. Tiba-tiba ia terhenti. Seekor reptil bergeliut-liut di tengah jalan, mencoba melampaui rasa sakit dengan kekuatan pikirannya. Tapi ban-ban ganas tak henti melindas, menderak pecah menetaskan darah sebelum akhirnya ia serupa dengan lempengan botol mineral.
“Ular-ular itu tidak akan bernasib lebih baik disini. Tapi di pekaranganku, mereka beranak pinak dan saling mencumbu,” kata seorang laki-laki lusuh yang sudah sedari tadi menyenut di sudut trotoar menyimak drama ajal sang ular. Je sontak menoleh pada gembel tengik yang lebih terlihat kenyang itu.
“Aku juga sudah pernah melihat yang lebih buruk dari ini bahkan menimpa mereka yang lebih lemah dari ular ini,” jawab Je.
“Siapa namamu?”
“Je Vana. Aku biasa dipanggil Je,” jawab Je.
“Oleh siapa?”
Je terdiam. Keningnya mengernyit. Ia tak menyangka betapa sulitnya mencari jawaban itu. Entah susah mengucapkan atau memang tidak menemukan.
Gembel tengik itu tersenyum tipis. Memaklumi. Lalu ia beranjak dan menuju sebuah gang sempit pertokoan. Je sejenak termangu sebelum mengetahui ternyata kakinya ikut melaju. Dituntun keanehan dan penasaran. Dan mereka pun tiba di sebuah gudang tua. Satu-satunya peneduh di areal kumuh kota. Bangunan berdinding kayu dan beratap seng itu adalah rumah Tuhan tanpa kubah, tempat persalinan tikus dan cecurut terberangus. Bangkai-bangkai televisi, kursi, lemari, dan lukisan-lukisan monumental terbungkus serat laba-laba dan kepompong-kepompong agas. Menjadi peti anai-anai seribu generasi. Senyap namun gersang. Je pun mulai merapikan epistem-epistem Tuhan, Dosa, Malaikat, Nabi dan Iblis di rongsokan-rongsokan itu. Mencoba tidak terperosok dalam gaung imajis brutal yang akan membuatnya harus menyusun ulang tokoh-tokohnya semisal orang-orang Basques yang diganti dengan orang-orang Sarrasins, atau antara Cliges dan Lancelot.
Je melingkup kedua matanya, mencari satu pijakan yang nyaman untuk sebuah benda bernama manusia, sementara si gembel duduk di sofa rongsok sembari membuka sebuah kanvas dan mengambil beberapa kuas. Je mengamatinya tanpa takut, justru penasaran. Tak lama terdengar sayup berisik instrumen national anthems Indonesia dari sebuah radio butut, lagu yang lahir karena matinya kemanusiaan di Hiroshima. Je mencari sumber suara tapi yang ia temukan adalah serentet wacana asing di sebuah diagonal dinding, tepat di samping gembel itu.
“the humanism face on the corner of road hide done some robotics. The age what horrified was placing all the old fossil, old fossil against over civilization. Almighty God, I am not a global man but ain’t ancient. I am an antique but ain’t classic. I am historical…,”
“Kerancuan terjadi dimana-mana dan kapan saja. Tidak hanya kerancuan Shakespeare atau pula kerancuan Roosevelt, tapi juga kita. Kerancuan kita adalah kerancuan Tuhan,” kata pengemis itu sembari melukis.
“Negara itu individu yang berantai. Semua memiliki keinginan bertahan dan menyerang,” jawab Je sambil menggapai kursi reot.
“Kau kesini dan menemukanku hanya untuk memberitahuku tentang itu?”
“Bukan, aku justru ingin mendengarkanmu,” jawab Je pahit.
“Ini bukan soal Adams Smith, Darwin, Jhon Locke, atau Bush,” tukasnya.
“Iya aku tahu, ini soal Morisson, Hemingway, atau John Hersey,” tangkas Je.
“Lalu kenapa kau ragukan?”
“Karena aku selalu berada di posisi itu, dan aku berusaha untuk memihak.”
“Jangan memihak, tapi berpihak.”
“Lalu bagaimana agar aku berpihak?”
“Apa kau pernah ke teluk Guantanamo, Abu Ghuraib, Baghram, atau pulau Buru?”
Je menggeleng, mencoba mengerti.
“Tidak akan mudah bagimu untuk berpihak,” jawabnya.
“Kau sudah lebih dekat daripada aku dengan kekerasan paling brutal di bumi ini,” kata Je, “itu sebabnya kau lebih memilih sendiri dan hidup seperti ini?”
“Aku hanya tidak suka deadline,” jawabnya, “dan kekuasaan.”
“Kenapa?”
“Karena pembunuh yang diperintah adalah budak paling tolol sedangkan pemberi perintah adalah raja paling konyol,” sambungnya.
“Sepertinya aku tahu siapa yang kau kutuk di bumi ini,” kata Je.
“Orang sepertiku tidak boleh mengutuk ataupun membenci, hanya harus berpikir kebaikan dan ketulusan,” jawabnya.
“Tapi untuk berpihak, seseorang harus memiliki kebencian atau kecintaan, kan?”
Laki-laki kumuh itu tersenyum tipis, meski mengakui.
“Dan kau punya pihak yang mana?”
“Dua-duanya,” kata Je pahit, tahu bahwa laki-laki itu memang benar-benar memiliki pihak.
“Idealismemu berada ditengah dan diluar dari beberapa pihak, bukan ditengah dan di dalam dari satu pihak,” analisanya, “aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu.”
“Kau bisa memberitahuku bagaimana kau menjalani semua ini dan apa yang membuatmu bertahan sejauh ini,” sela Je cepat.
Laki-laki itu menurunkan kuas dan memandangi sejenak lukisannya.
“Kemarilah,” gapainya pada Je.
Je laun mendekat dan melihat apa yang dilukisnya. Sebuah dinding yang sudutnya tepat di garis tepi kanvas, dengan bidang diagonal lurus tebal berwarna biru gelap, sedikit pantulan sinar dari gurat-gurat kasar. Tak berinti. Kanvas itu hanya sebidang dinding tak bertepi.
“Aku tidak punya apa-apa selain kepercayaan. Aku tidak punya keinginan dan tujuan,” katanya, “Jadi nak, kita sangat berbeda sekali. Kau hanya memiliki sebagian kecil dari diriku. Aku berada di dalam dan ditengah rumah ini sedangkan kau hanya sekadar mengunjungi,” katanya.
Kening Je mengkerut tebal. Tiba-tiba dari luar terdengar sirene di alun-alun kota, rem-rem kendaraan yang mengikis aspal, klakson-klakson yang memekik telinga, dan seruan-seruan marah dari beberapa pengemudi yang perjalanannya terhalang. Je melihat keluar, dua buah pohon tumbang dan traffic light tidak menyala. Beberapa pejalan kaki berkumpul pada sepetak area dekat tiang listrik. Lima meter darisana beberapa pekerja perhubungan umum tampak masih sibuk membetulkan jalanan yang retak dan berlubang. Dua anak belasan tahun terkapar bersimbah darah karena hantaman bis kota. Dua minibike rusak berat, jalan raya macet, dan supir bis yang menabrak segera diamankan dari lintasan kejadian perkara.
Akan ada yang menangis hari ini. Akan ada tambahan waktu untuk menyelesaikan perbaikan jalan. Akan ada atasan-atasan yang marah karena para karyawan terlambat datang. Akan ada cerita di rumah-rumah tentang kematian dua anak bersepeda yang mengebut di jalan raya.
Hujan frontal menancap tiba-tiba.
Montase 5
JE tertegun di depan krematorium anjing, membaca selebaran lotre yang melekat di samping etalase. Ia mencoba mengingat urutan digit angka di selebaran itu sambil merogoh saku. Secarik kupon undian bertuliskan “one way ticket to The Nova” terselip lusuh. Ia mendapati sederet angka yang persis dengan angka di selebaran itu. Je mulai meraba nama itu, mencoba mempersempit jarak yang sangat jauh dan berbeda darinya. Ia sendiri belum mengenal sang artis meski terasa cukup tematik untuk sebuah karnival megah di dunia yang meriah. Je tidak mengerti apa yang diharapkannya dari kontestasi periodik yang banyak dipandang orang-orang sebuah masa agung yang tak ternilai. Bagi Je, itu hanyalah kesedihan yang tak pernah terbebaskan sekaligus tak terhindarkan. Tapi Je tidak ingin menyia-nyiakan tiketnya, bukan untuk menjadi, tapi merasa jadi. Ia ingin semuanya terjawab dan terungkap.
Je masuk ke krematorium itu dan menemui seorang resepsionis muda dengan setelan jaket kulit buatan pulau Komodo. Ia letakan kupon itu, meminta untuk dicek dan diproses sebagaimana mestinya. Lalu resepsionis itu memberinya stempel cap dan segaris paraf. Je menerima sebuah kartu ucapan selamat setelah lebih dulu menerima ucapan terimakasih. Pengenalan dari tematik yang terkontestasi itu adalah kesempatan Je bertemu sang idola dalam tajuk “Chitchat&Dinner with The Nova”.
Sejenak resepsionis itu menatap Je sebagai torso orang-orang tak terduga. Durasi tatapan yang sangat berarti dari seorang manusia di peradaban ini.
Je berkemas dengan aksesoris terbuat dari flat emas dan sebuah tas dari kombinasi soft leather dan brown suede berbentuk saku kemeja. Entah kenapa ketika detik-detik pertemuan dengan sang artis, Je cemas luar biasa, membuat dirinya tak teridentifikasi. Sebenarnya Je ingin segera mengakhiri tapi sang artis sudah terlanjur menunggu dan Je hanya perlu membuka pintu.
Tak terbayangkan olehnya. Sehari sebelumnya ia berada di depan rumah krematorium hewan, tapi sekarang dia seperti berada di akuarium non CFC yang tersublimasi di bawah titik beku dan menciptakan hexagonal-hexagonal es. Ruangan itu tiba-tiba seperti karangga kulkas yang membekukan bola-bola air menjadi bongkah-bongkah es sebelum sempat menetes ke alas pijak. Jauh dari balik jendela yang bening, guntur menggaduh, membuat retak-retak awan cumulonimbus nyaris seperti cerabut akar yang membelah umbi. Menembus bumi. Sementara sang artis yang dikenal sebagai The Nova itu masih menggurat alis dan bulu matanya yang lentik di kaca antiknya. Sekelebat cahaya resolusi spektra cecar ke ruangan menjadikan gempa. The Nova tersenyum, menyambut Je yang baru saja masuk dan tertegun. Senyum yang untuk pertama kalinya hanya dipantulkan secara spekular dari sebuah ornamen bening dua dimensi, dengan daya serap tinggi, wajah yang untuk pertama kalinya terjiplak dari zat dan sifat-sifatnya menjadi potretan bayang yang datar, tanpa rintangan.
Padahal matahari tidak ada.
Selain cermin dan jam analog stainless steel di pergelangan tangan The Nova, tidak ada yang bisa dimaknai Je dengan keabadian.
“Selamat datang Je,” sapa sang artis dari muka cermin rias.
Je mencoba tersenyum, tapi pemaknaannya belum selesai.
“Tidak usah bersusah payah menerka semua yang ada disini, Je. Kaulah yang harus dideskripsikan.”
“Aku ingin mengenalmu,” kata Je perlahan.
“Tidak, akulah yang ingin mengenalmu. Kau orang yang terpilih itu,” jawabnya.
“Apa aku juga orang yang beruntung itu?”
The Nova tersenyum lembut. Wajahnya seperti pancaran kristal yang terpantul kilat elektrik, menciptakan magnetik memukau.
“Santai saja, kau tidak perlu mempertahankan simbol yang melekat pada dirimu itu. Aku masih bisa melihat citramu meski kau menanggalkannya atau sejenak melupakannya,” katanya.
“Apa yang kau lihat?”
“Semacam kerancuan yang wajar namun tidak relatif,” jawabnya.
“Kenapa orang-orang selalu berbicara tentang diriku?”
“Karena kau selalu membicarakan tentang mereka.”
Je terdiam sementara The Nova riang mengompres wajahnya dengan air es.
“Ngomong-ngomong, apa kau menyimpan fotoku?”
“Tidak ada citra yang berhasil melukiskan dirimu. Sama seperti yang lain,” kata Je yang bermaksud berkata bahwa ia tidak punya foto siapapun, termasuk dirinya.
“Tapi aku mengagumi talentamu sampai-sampai aku bersikap seperti dirimu. Apa kau keberatan?” kata Je dengan senyum kecilnya.
“Orang yang memvonisku seperti itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa,” jawabnya.
“Aktingmu bagus. Aku berhasil dirasuki,” kata Je tanpa berniat memuji.
“Kau melihat diriku dari pantulan cermin ini, Je. Seharusnya kau berdiri di hadapanku,” katanya menyungging senyum, “begitu pun aku.”
“Apa ada bedanya?”
“Orang yang mengagumi berarti mereka mengerti dengan apa yang dikagumi itu, iya kan?” katanya sambil mulai memoles.
“Apa yang tidak kulihat dari dirimu?” tanya Je, penasaran.
“Begitu banyak cobaan dan hukuman, Je. Kau tidak akan menganggap itu mudah.”
“Memang menjadi orang sepertimu itu tidak mudah. Tapi aku suka kebebasan yang kau miliki. Ekspresi, daya pikat, dan peluang itu,” kata Je.
“Sebagian dari talenta ini bukan anugerah, Je. Dibalik kebebasan, perlu banyak kesabaran dan usaha keras.”
“Kurasa kau tidak perlu berusaha keras untuk mengetahui apa yang kau miliki,” jawab Je.
Sang artis mengembangkan senyum di tengah kesibukannya memoles gincu. Matanya yang bening memancarkan aura membunuh. Membunuh keimanan para perjaka cinta.
“Kau percaya kalau manusia itu bodoh?”
“Bukannya akting adalah pembodohan?” jawab Je jujur, “pembodohan yang hebat.”
“Lalu kenapa mereka tidak merasa dibodohi?”
“Mungkin karena mereka butuh kebebasan yang berlainan dengan kebebasan mereka,” jawab Je sedapatnya.
“Iya kau juga benar, tapi sebenarnya manusia itu tidak ada yang bodoh. Hanya saja siapa yang duluan membaca. Semua manusia itu pintar toh? Hanya saja siapa yang duluan berkarya,” jawabnya seperti membacakan sebuah motto.
“Filosofis sekali,” bisik Je.
The Nova tersenyum sambil berpaling dari cerminnya 360 derajat. Wajahnya tampak cantik dan gemilang. Cahaya bening yang berpantulan dari kulitnya membuat je menyiripkan mata. Mereka berhadapan.
“Apa yang kau lakukan ketika kau tahu kalau kau punya banyak kelemahan?” tanyanya.
“Aku akan berusaha memperbaikinya menjadi sebuah kekuatan,” jawab Je.
“Berarti kau sudah tahu apa pertanyaanku selanjutnya.”
“Tidak, aku tidak tahu. Pertanyaan apa?”
“Pertanyaan lanjutan Je,” katanya, “apa yang kau lakukan kalau kau merasa sudah memiliki banyak kekuatan?”
“Keangkuhan dan ketidakperdulian,” jawab Je cepat.
“Kau sangat memahamiku, Je.”
“Memangnya kenapa dengan itu?”
“Karena selain kebebasan, aku harus punya keterbatasan.”
“Harus punya?” kening je mengkerut, “keterbatasan apa?”
“Untuk mengubah keangkuhan dan ketidakperdulian menjadi kesederhanaan dan kemampuan memaklumi. Kerendahan hati,” jawabnya.
“Tapi itu beresiko untuk semua kemewahan ini?” tandas Je, “kau tidak merasa itu mengganggu?”
“Kemewahan tetap butuh aturan-aturan Je. Ada sesuatu yang harus dikorbankan untuk membuatnya mewah.”
“Kau tidak merasa tersiksa dengan pembatasan itu?”
“Apa kau tersiksa?” tanyanya balik.
Je menggeleng, bukan jawaban tapi sekadar tak tahu bagaimana rasanya tersiksa itu sesungguhnya.
“Berarti kau belum merasakan kebebasan.”
Je mengernyit, kali ini sangat sempit.
“Apa ketika kita ingin melakukan sesuatu lalu ada yang mencoba menghentikannya dan dengan sangat disayangkan harus dihentikan?”
“Seperti ketika di depanmu ada bubuk kopi dan gula, dan kau sangat ingin sekali minum kopi, tapi kau tidak mampu mendapat rasa dari kopi seperti apa yang kau inginkan,” katanya.
“Simulasi?”
“Iya, ketidakpuasan adalah akibat dari simulasi. Ketidakpuasan adalah siksaan yang abadi. Tidak bisa diukur, karena ketidakpuasan hanya bisa hilang ketika kau merasa bahwa kau tidak tersiksa. Tidak menderita.”
Je terdiam, mencerna.
“Begitulah cara menghadapi pembatasan Je, sebab dirimu akan mutlak menerimanya,” lanjutnya, “untuk memiliki kekuatan.”
Je diam. Lalu The Nova menuntunnya ke sebuah meja dengan hidangan lezat.
“Kau pasti sudah lapar. Bagaimana kalau kita lanjutkan sambil makan?”
Je menurut. Mata Je tiba-tiba menjadi saluran got hidangan itu ke perutnya. Ia dihadapkan pada sebidang meja penuh kenikmatan. The Nova mengatur tempat duduknya, menyambut aroma sedap dengan sepotong senyum manis. Dengan perlahan dan tertata sang idola menyantap, sementara urat-urat syaraf Je sedang tersumbat.
“Ngomong-ngomong soal akting tadi, bagiku, akting itu adalah kebebasan yang sebenarnya tidak bebas. Kamuflase karakter yang bisa saja menipu pemiliknya sendiri,” kata The Nova sambil mengunyah.
“Bagimu, tidak bagi penonton,” jawab Je. The Nova memasukan sepotong sayuran mentah ke mulutnya.
“Tapi, bagaimana bisa tertipu?” tanya Je.
The Nova tersenyum manis, “perubahan watak asli dan terkikisnya sensitifitas.”
“Bagiku itu semacam akibat sekaligus kekuatan,” kata Je.
“Iya,” renungnya, “kekuatan yang melemahkan dirinya sendiri.”
Je terdiam melihat sang artis seperti tidak menyukai kondisi seperti itu.
“Kau sangat sadar sekali dengan kondisi dirimu,” kata Je.
The Nova tersadar dan kembali melempar senyuman, “karena aku tidak seperti artis-artis lainnya,” katanya menggoda.
Je tersenyum. Ia tahu itu dari pembicaraan mereka sebelumnya. Jika saja The Nova tidak mengucap kalimat itu, senyumnya tadi dan senyum-senyumnya yang akan datang, akan mengundang gubrisan dari Je.
Dan sebentuk halo pun mengitari bintang-bintang dalam nisbi malam.
Montase 6
AWAN Stratocumulus terpagut jendela. Je berdecak kagum memandangi siluet Aurora Borealis di balik lima pucuk cemara. Terpigura. Seorang laki-laki yang pernah melantunkan piano kemarin kembali muncul, merapat ke punggung Je, meretas konsentrasi pada saat-saat yang terakurasi.
“Siapa kau?” tanya Je merasakan hawa tubuh laki-laki itu merasuki pori-pori punggungnya. Tanpa berbalik.
“I am an infinitely shy person with an enormously intuitive gift for understanding people, to be others,” bisik laki-laki itu. Hangat nafasnya perlahan melingkari leher Je.
“Tapi kau sangat berbeda,” lirih Je, “sangat berbeda denganku.”
“Definitely!” katanya, “Each of us had something self contradictory, something like… interesting paradox to these phenomenon, humans, things, and acts, and even we’re self,” jawabnya dengan stres-stres lirih pula.
Je terdiam, mencerna. Sedikit terkontaminasi karena intimidasi.
“So, wanna talk about sex?” tawarnya dengan tatapan dalam, semacam jeratan.
Je belum menggubris, masih sibuk mengidentifikasi dirinya dan laki-laki itu.
“You think that I favored you inside, your that fuck inner?” katanya, membaca prasangka-prasangka Je.
“Your horrible inner was deeply terrible for my adventure. It takes a permanently static for my exist..., and for yours,” lanjutnya.
“Maksudmu?”
“I have a play to get an aim, not to a draw.”
“Kau salah,” kata Je, “hanya saja membicarakan hal-hal yang berbau seks tidak melibatkan intelektualku. Aku tidak tertarik dengan itu.”
“It’s all about emotional, Je. Profesional emotional.”
Kening je mengkerut.
“Have you planned to get marry?” tanyanya dengan sensasional.
“Aku tidak mau menikah,” aku Je sambil menggeleng.
“Because of a fear of suppressed, feel commited, or have been bored to be a knickknack?” tandas laki-laki itu.
“Ketiganya,” lugas Je, “dan aku tidak suka sikap pesimismu itu. Sudah kukatakan aku tidak tertarik dengan hubungan apapun.”
“You are the pesimistic!” ungkapnya sambil membalikan punggung Je dengan nanar, “known the konkret of yours, then felt that it was unfair. Don’t you desire to kill your self?”
“Aku berusaha melawan!”
“By what? With your death?” sorotnya.
“Aku punya banyak teman,” kata Je geram. Ia lalu melepaskan diri dan menjauh beberapa senti.
“No no no Je,” katanya sambil menggeleng dan menyimpul senyum, “You are alone. You don’t have anyone.”
Je menyorotnya tajam sambil mundur beberapa langkah.
“But I’ll make you chose, to be more despicable, fanatic, stingy, brutal, as a loyalty and consecuency of your choice.”
“Katakan saja opsi-opsinya. Kau buang-buang waktu saja!”
Laki-laki itu terdiam sejenak, menyimak sosok Je lekat, dan suasana pun menghening.
Mereka saling menyorot tajam, menjaga simetris langkah dengan tenang, melahirkan sinergi berlawanan. Namun binar mata laki-laki misterius itu tiba-tiba menghentikan langkah Je dan membuat sorot matanya tertekuk sayup. Je masih tak mengerti bahkan ketika laki-laki itu sudah berdiri satu jengkal di depannya dan semakin mempertajam tatapannya. Je hanya berjibaku dalam bimbang yang semakin jelang ketakutan. Ketakutan yang meradang disaat ia belum bisa merasa siap, di saat ia tidak ingin memilih, di saat kejelasan akan menusuk sedalam ketegasan mata sang pejantan.
Je rengkuh dalam angkuh. Laki-laki itu terlalu kuat untuk ditaklukan meski tatapannya perlahan redup, memancarkan sinergi kelembutan dan penuh ketulusan. Bibirnya memerah dan bergetar dengan nafas yang tertahan. Ada hawa hangat keluar dari pori-pori tubuhnya, melanda Je, merasuki pori-pori Je, bahkan meremak rongga hati Je yang merah purna.
Je menurunkan bola matanya ke dada laki-laki itu. Tak sanggup lagi bernaung dalam benteng pertahanan. Ia mengairi tenggorokannya yang kering dengan ludah. Entah, Je seakan lengah. Tak satu pun anggota badannya yang bisa digerakkan. Sistem sarafnya seperti putus memutus, lumpuh. Laki-laki itu melangkah lebih dekat, menyentuh halus kulit Je, dan membiarkan dingin menjadi bangkai malam. Je yang meragu, mundur lebih jauh. Laki-laki itu selangkah lebih maju. Je malu. Je pun tertawan, tersamun kehangatan.
Perlahan, bibir laki-laki itu bergerak ke bibir Je yang lunak. Aura membunuh menyembur dari hembusan nafasnya. Je terpejam, menikmati bibirnya terlumat hangat. Bidang dada lelaki itu kokoh menopang tubuh Je yang sintal, mengambil pinggul Je yang bulat dan memeluknya erat. Ia lalu menghisap leher Je yang basah. Semakin lama semakin ke bawah. Je melemah. Bibir laki-laki itu bersarang di belah dadanya yang rekah. Je lumpuh, sementara laki-laki itu pun terhipnos hingga merobek baju Je dan terus menyusuri setiap lekuk tubuh Je.
Tiba-tiba mikrocip Je menghilang, tersembunyi di suatu tempat yang gelap di sudut ruang, diluar tubuh Je.
Selang beberapa waktu, mereka merapat dalam sepetak ranjang hangat. Je memandangi langit-langit tanpa delik, sementara laki-laki itu hanya menatap wajahnya, sesekali menciumi dan membelai rambutnya.
“Siapa kau?” bisik Je tanpa daya.
“My name’s Mada. You think about me often,” jawab laki-laki itu. Je berpaling ke arahnya.
“Kau darimana?”
“A really differ place near you.”
“Kenapa kau melakukannya? Memberiku kenikmatan ini.”
“Because I feel more pleasure,” katanya berbisik, “sexually.”
Sesaat mereka saling pandang. Mada ingin menciumnya lagi tapi Je perlahan berpaling.
“Do you mind if I do it again?”
“Untuk apa?”
“For the bliss,” lugasnya.
“Hanya itu?” kata Je.
Mada tersenyum. Ada guratan kemenangan di wajahnya sekaligus kekalahan.
“You wouldn’t want me if I’ll make you belong,” bisiknya.
Je tiba-tiba stabil. Perlahan mikrocipnya keluar dan pulang, seperti hendak menancap kembali ke tempatnya.
“Komitmen?” tanya Je.
Laki-laki itu mengangguk, “with some babies,” akunya halus.
Je tersentak, seakan ada bongkahan batu pegunungan yang datang dari langit-langit, siap menimpa tubuhnya. Bola mata Je menancap di banyak sudut tak beraturan. Dahinya mengernyit dan menggeleng-geleng. Tak mendapat keputusan. Mada menenangkan Je dengan lembut.
“Or just has ended right now right here?” tuturnya laun.
Je menggeleng gelisah. Ia masih juga belum mendapat cara. Mikrocipnya rusak sehingga keputusan datang terlambat.
“You have much time. We’ll meet soon,” katanya.
Laki-laki itu menghilang, secepat kabut terlerai sinar. Berpendar tanpa cerca. Je tidak mampu mencegah.
Montase 7
SEROMBONGAN anak-anak berlarian sembari mendongak, mengejar balon-balon yang mereka lepaskan ke langit. Kecipak-kecipak air dari genangan air yang mereka pijak membuat sulur-sulur jarak kehilangan cermin. Dan langit pun tak mampu bersolek lagi. Mereka terus berlari bahkan ketika batok-batok dengkul mereka sudah terlalu dingin. Je duduk dengan tontonan itu, mengeja hari depan dengan mundur ke masa lampau.
“Sedang apa kau?” seorang anak belasan tahun menyapa Je ramah.
“Menurutmu apa?” kata Je tanpa gelak hanya delik datar. Bocah itu duduk di samping Je.
“Kau mau turun?”
“Aku amatiran,” jawab je tenang.
“Disini memang khusus melatih amatiran menjadi profesional.”
“Kelihatannya mudah, tapi aku yakin untuk melakukan itu butuh waktu dan latihan keras,” timpal Je.
“Iya kau benar,” katanya, “tapi siapapun bisa melampauinya jika punya kemauan.”
“Apa mereka tidak merasa tersiksa? Ehm maksudku, mereka tidak merasa capek dan bosan? Kelihatan sangat melelahkan.”
“Justru kalau mereka berhenti, mereka akan merasa … , apa yang kau sebut tadi?”
“Tersiksa,” ulang Je.
“Iya tersiksa. Ini seperti candu yang mengobati,” jawabnya sambil mengelap bulir-bulir keringat, “kau harus mencobanya.”
Je ragu.
“Ayolah. Lagipula kau butuh udara segar kan? Latihan ini akan membuat semua yang menggumpal menjadi lebur,” lanjutnya.
“Ya aku tahu,” kata Je, “tapi aku takut tidak akan konsisten dan konsekuen.”
“Hei kau kan belum mencobanya, bahkan kau hanya duduk saja disana,” timpalnya.
“Kau tahu aku suka bentuk kaki dan dadamu itu. Tubuhmu ideal, proporsional, dan sintal. Mudah bagimu untuk membuat keseimbangan dan menjadi stabil,” lanjutnya.
“Tubuh dan pikiran akan seimbang kalau kita berpikir positif dan sportif,” kata Je.
“Benar sekali, dan kau hanya perlu melatih fisikmu. Kau terlihat tegang sekali seperti tidak ada simetris apapun,” katanya sambil melihat sekujur tubuh Je.
Je pun melihat dirinya.
“Kenapa kau suka melakukan ini?”
“Karena ini sehat,” tangkasnya.
“Bukan itu, maksudku…,”
“Pemuasan batin,” potongnya.
“Jadi ini bukan pekerjaan?”
“Aku melakukannya bukan kerena uang tapi tuntutan nurani. Kau tahu kan nurani itu apa?” katanya mengevaluasi.
“Tak bisa kudefinisikan tapi mungkin aku sangat paham,” jawab Je, “aku tidak akan sukses di duniamu ini, tapi ya aku sangat menyukainya.”
“Hanya butuh kerutinan Je.”
“Menjadi sejati sepertinya butuh kekompleksan, bukan saja kerutinan semata,” ungkap Je, “ini lebih sulit lagi. Mungkin aku akan kalah.”
“Aku tidak melihatmu seperti itu.”
“Kau hanya tidak mau meremehkanku. Akui saja. Tidak apa-apa,” kata Je.
“Yang terpenting sekarang adalah niat. Dengan itu kau bisa menjadi apa saja. Kau seorang yang kejam, Je. Jika pengusaha, kau adalah pengusaha yang kaya-raya. Jika seorang ilmuwan, kau akan menjadi ilmuwan legendaris, dan jika kau seorang yang alim, kau akan menjadi alim yang sejati,” ungkapnya.
“Begitu juga sebaliknya kan?” kata Je tersenyum tipis.
Bocah itu ikut tersenyum, tipis.
“Entahlah, aku belum meyakini apa-apa saat ini,” lanjut Je.
“Berarti kau cukup jalani saja apa yang kau suka. Semua yang ada pada dirimu biarkan membara untuk menunjukan dirinya masing-masing. Sekuat apa bertahan dan membahagiakan,” jelasnya.
“Sampai kapan?”
“Sampai kau merasa itu yang terbaik dan selalu melandamu di setiap interval yang sangat tipis, untuk kau perjuangkan. Tanpa kau sadari kau telah berusaha bertahan.”
“Terpilih dengan sendirinya akan menghabiskan waktu yang sangat lama,” ungkap Je. Begitu banyak semangat-semangat yang bersemayam di diri Je. Menciptakan kebimbangan yang tak pernah usai. Keraguan yang terus menghabiskan putaran waktunya. Bocah itu tidak bisa memprediksikan bahkan bagi dirinya sendiri yang terkadang masih diterpa kebimbangan dan keraguan. Keraguan yang selalu mendesaknya untuk membuat suatu kerancuan.
“Iya, memang butuh waktu yang lama,” katanya sambil mengangguk, lalu perlahan bangkit dan meninggalkan Je yang tertegun menyimak anak-anak. Berlarian.
Montase 8
MALAM nyaris seperti sulang jelaga tanpa udara. Pekat namun hangat. Embun-embun malam itu terlalu cepat pecah, berganti kerat-kerat keringat yang lengket. Berlendir. Je merasakan dirinya dihabisi angin laut akut yang merasuki rusuk-rusuk rumah, meninggalkan buih-buih selaput. Je terus mencari titik cahaya di kelamnya sudut-sudut gulita. Barangkali disana ada seseorang yang mampu membuatnya sejenak tak terlihat. Tak tersentuh.
Tiba-tiba aroma perjaka kembali menyulut hidungnya. Membaur bersama balur-balur udara sumbat edaran nafas. Je kerap menganggap dia adalah zat laknat serupa malaikat Zabaniah yang selalu mengintai dan mendiami mayat-mayatnya pada waktu terlelap. Tapi ternyata hanya seonggok kurcaci pilu yang cecar dalam samun panggung. Panggung tanpa naskah yang kadang terbengkalai oleh syahwat beku Je dan kadang pula terorganisir oleh teror-teror asing Je. Sebentar gugus lalu pupus.
“Dimana aksenmu itu?” tanya Je.
“Aku yakin kau menginginkannya lagi,” jawab Mada.
“Sampai sekarang aku tidak tahu siapa diriku. Apa kau tahu siapa diriku?” tanya Je.
“Aku hanya mencoba membuatmu memilih, bukan menentukan pilihan atas dirimu.”
Je duduk di dekat Mada.
“Pilihkan untukku,” lirih Je.
Mada diam sejenak. “Kenapa aku?”
“Karena kau laki-laki,” jawab Je, “sebagai laki-laki, kau ingin pilihan seperti apa?”
“Aku ingin kau sebagai wanita.”
Je tersentak. Ia tidak pernah siap menempatkan diri di peran-peran itu. menghapus semangat-semangatnya.
“Kau ingin aku terus bersamamu kan?”
Je mengangguk, jelas.
“Mau yang bagaimana?”
“Kau. Hanya kau, tanpa itu,” jelas je, “aku tidak mau menjadi wanitamu.”
“Kau yakin?”
“Aku yakin sekali.”
Mada menggeleng dan menyimpul senyum.
“Kau membuatku bingung,” kata Mada.
Je justru bingung, “kenapa bingung? Kita cukup bertemu dan saling menyapa.”
“Kalau kau tidak mau menjadi wanitaku, kita tidak bisa bertemu lagi, di dunia manapun bahkan di keabadian sekali pun,” jawab Mada.
Je terperangah. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Mada.
“Kau siap untuk tidak melihatku lagi atau kita bersama-sama menikmati cinta?” ancam Mada. Je tertunduk gelisah.
“Kau mengancamku?” kata Je.
“Kau yang mengancamku? Mengancam keberadaanku,” kata Mada ingin pergi dan meninggalkan Je sendiri.
“Aku mau bersamamu, tapi tidak untuk itu!” kata Je keras.
“Kau ingin bersamaku atau tidak? Jawab Je!”
“Aku tidak mengerti. Kau datang untuk membuatku memilih. Kenapa kau mau keduanya?”
“Kau yang mau keduanya,” kata Mada.
Je mengernyit, “maksudmu, itu bukan pilihanku?”
Mada mengangguk, “iya, bersamaku untuk bercinta denganku, atau tidak kedua-duanya.”
“Tidak kedua-duanya?” katanya Je, “jadi kalau aku tidak mau bercinta denganmu, kau tidak mau bersamaku?”
“Sudah kukatakan aku ingin bermain dengan satu tujuan bukan seri, Je! Kau lupa ya, kita sedang bertarung, bukan untuk kemenangan atau kekalahan tapi untuk sebuah eksistensi, eksistensi yang mutlak dan fanatik.”
Je bertambah bingung, mikrocipnya korslet lagi. Ia tidak siap menentukan.
“Kalau kau tidak mau bertarung, untuk apa kau menemuiku,” tegas Mada, “aku datang hanya untuk bertarung, bercinta denganku atau tidak usah temui aku selamanya.”
Je perlahan mundur dan berbalik meninggalkan Mada.
“Kau sama seperti yang lain, Je. Lucu! Jangan temui aku lagi!” kata Mada keras lalu lenyap tanpa bekas.
Montase 9
JE mengeram di pelukan kasur empuk. Melepuh. Igauan-igauan absurd semalam membuat gerimis turun lebih cepat. Mengakhiri pucat bulan dan mengusap jelaga-jelaga yang bertebaran di hari yang sudah bugil ini. Dimensi ruang Je ternyata menghadirkan seorang perempuan muda nan cantik. Sebuah pikuk dunia datang dari kikuk jiwa yang tengah suntuk.
Ia seusia Je, membukakan tirai jendela untuk mewakili ucapan selamat datang darinya. Monumen-monumen ingatan Je merayap ke luar salju menuju padang tandus. Kurcaci pilu nan cengeng semalam tiba-tiba terberangus di perjalanan maut terkudus. Dan cahaya kuning pun melesat memelacur pada tubuh Je hingga hasratnya terpintal rapat.
“Kau pasti ingat dia lagi?” sapanya membunuh kebekuan Je, “kau merindukannya kan?”
Je mengangguk sambil tersenyum malu. Burung-burung gereja yang bertengger di dahan cemara tak berdaun semakin tak menggugurkan senyumnya, bahkan lebih kentara.
“Sini kuceritakan,” kata Je sambil menarik tangan gadis itu ke tepi ranjangnya. Mereka saling pandang, gadis itu tidak sabar mendengarkan.
“Dia hanya cinta aku. Dia tidak bisa lepas dariku, Eva,” kata Je dengan senyuman ceria.
“O rupanya sudah sebegitu jauh?!” tangkap Eva. Gadis berperawakan binal dan sintal itu sangat mengenal betul tekstur laki-laki, yang mudah terkontaminasi karisma dan sentuhan.
“Dia sangat menginginkan aku padahal dia bisa membuat gadis lain tergila-gila,” sambung Je.
“Iya, dan kau pastinya akan merana.,” cibir Eva.
Je tersenyum. Eva mewanti-wanti Je untuk tidak terlalu bahagia. Jatuh cinta untuk pertama kali adalah awal pendewasaan sekaligus dimulainya pengikisan sensibilitas.
“Kalau kau memandang matanya, kau akan hanyut dan lebur dalam jasad angin,” kata Je sambil senyum-senyum sendiri, terhanyut. Ia sedang kasmaran berat hingga benar-benar tak terlibat dengan realitas.
Eva ikut tersenyum.
“Kalau kau melihat tubuhnya yang tegap laksana punglin, kau akan berlarian mengejarnya seperti seekor penguin,” lanjut Je, “dan kalau kau melihat senyumnya yang merekah seperti mawar pecah perawan di setengah fajar, hatimu akan tertancap duri landip hingga berdenyut menghentikan nadi dan kau tidak lagi mengenal dunia yang fatamorgana ini.”
Eva tersenyum, “bagaimana dengan ini?”
Je berhenti dan siap mendengarkan Eva membait.
“Kalau aku melihat senyumnya, aku akan membungkus jantungku untukmu. Kalau aku melihat matanya, aku akan mencabut jantung dan mematung, dan jika aku merasakan gurat tangannya yang kekar, aku akan pura-pura tegar sampai tubuhku jatuh dipelukan. Dan ketika aku terbangun, aku ingin selalu terbangun di atas kasurmu yang putih. Cukup dengan secangkir cium dan janji, maka aku akan berlutut untuk satu kerentaan yang teramat istimewa dan abadi, sebagai cenayang yang terhormat lagi ternobat.”
Eva berhenti melihat Je yang tampak mencerna.
“Kenapa Je?”
“Begitukah?” tanya Je memastikan.
“Iya,” jawabnya lugas, “itu lebih tulus kan?”
“Kedengarannya seperti sedang menyembah,” tukas Je.
Eva tersedak dalam senyum.
“Kau baru mendengar puisi Je, belum reality.”
“Maksudmu?”
“Itulah pria, maunya dipuji dan diberi lebih,” kata Eva santai, “tapi meski begitu, mereka mahluk yang sangat sensitif sekali, apalagi kalau sudah cemburu.”
“Apa Mada pernah cemburu?” lanjutnya.
Je diam.
“Kau harus membuatnya cemburu, kalau kau mau melihat seberapa sayangnya dia,” kata Eva.
“Kampungan! Sangat tidak berkelas.”
“Eiitt ingat Je, untuk sehati itu harus melewati ekstrimitas kecemburuan, apalagi kalau sangat feminis sekali, terasa sangat menggelora dan tak terlupakan.”
“Bagaimana kalau aku saja yang cemburu?” kata Je.
Eva berpikir sejenak.
“Ada empat lipatan kemungkinan. Pertama, kau yang akan menderita tapi dia yang berhasrat. Kedua, kau yang berhasrat dan dia yang sangat menderita. Ketiga dan keempatnya kebalikan dari yang pertama dan kedua.”
“Kelihatannya sangat manja dan konyol. Apa laki-laki sepenting itu?”
“Anggap saja itu sebuah fase,” tukas Eva.
“Dan setelah itu?”
“Ya kembali ke orang yang membuat permainan itu. Evaluasinya berhasil atau tidak, dan bagaimana penilaianmu terhadap pacarmu,” kata Eva.
“Aku pasti kelihatan sangat bodoh ya?!”
“Dan terlihat kalau kau yang sangat tergila-gila padanya,” jawab Eva jujur.
Je berpikir sejenak.
“Apa yang dilakukan orang kalau sedang tergila-gila, maksudku diluar rasa cemburu itu?” tanya Je.
“Ya tidak merasa sakit kalau disakitinya, tidak merasa benci kalau tidak disukainya, dan tidak perduli harga diri kalau dia sudah meminta,” jawab Eva.
Kening Je mengernyit, “kepasrahan maksudmu?”
“Iya seperti itulah, seperti membereskan seprei ranjang setelah semalaman kalian bercinta atau mencuci piring setelah kau memasakkannya makanan kesukaannya. Bagiku itu semacam kerelaan dan ketulusan.”
“Aku pasti akan sangat sibuk dengan kursus-kursus,” kilah Je. Eva tertawa kecil.
“Kau cinta tapi tidak mau kawin. Rela tapi tidak tulus,” kata Eva, “perempuan itu gurunya ketulusan, Je.”
“Bagiku itu adalah kepatuhan bukan perempuan. Kontruksi sintetik yang menipu. Manifesto genitalitas!” tukas Je. Eva terdiam, ia melirik Je yang tampak tak tertarik lagi dengan percakapan mereka.
“Teorinya, waktu akan memperbudak jiwa. Semakin tumbuh semakin rapuh, semakin kuat semakin lemah,” kata Eva tiba-tiba serius, mengikuti alur Je.
“Aku tidak mau terjebak dalam teori konspirasi yang kau jejalkan padaku,” kata Je sambil beranjak melewati Eva.
“Atau kau mau dia diambil orang?” cibirnya.
“Silakan saja kalau dia memang laki-laki seperti itu,” ketusnya.
“Bukan laki-laki, tapi perempuan itu sendiri yang begitu.”
“Iya, dan aku benci laki-laki yang membuatnya begitu!”
“Mau atau tidak Je?”
“Tidak!” kata Je sembari membanting pintu, dan Eva hanya mampu melihat punggung Je dari tepi ranjang sembari menggeleng.
Montase 10
JE memesan secangkir anggur Swiss di sebuah Presidium megah. Sebuah limosine hitam persis milik Furtseva berhenti tepat di gerbangnya. Seorang laki-laki paruh baya keluar dengan sebatang tongkat emas dan topi baret merah ber-pin moncong senapan. Ia tampak lebih muda dengan setelan Armany perak abu-abu sambil menghisap cerutu Kuba menuju lantai teratas gedung itu. Sebuah snack bar Kremlin. Ia lalu duduk di samping Je, meletakan koper dan memesan beberapa wiski Scotlandia, rokok Amerika, jenewer Inggris, dan sepotong Blintzes. Dia pasti seorang mafia birokratis, atau tidak, seorang pelacur akademis.
“Saya sering sarapan disini,” sapanya pada Je.
Je ragu walau berusaha tersenyum ramah.
“Pasti pekerjaan yang berat sekali,” jawab Je.
“Terlibat di beberapa rancangan undang-undang dan menghabiskan ratusan rubel untuk sepatu boot istri saya,” katanya, “bukan pekerjaan yang mudah bukan?”
Je mengangguk ragu sambil melihat laki-laki itu.
“Tapi itu tidak seperti kedengarannya. Pekerjaan ini justru sangat mudah sekali,” lanjutnya.
Je mengangguk-angguk, namun tidak mengerti.
“Siapa namamu?”
“Saya? O saya Berlin, Je Berlin,” jawab Je cepat.
“Kau punya pekerjaan, Berlin?”
“Entahlah,” kata Je.
“Kenapa kau bisa kesini?”
Je tampak berpikir keras untuk pertanyaan itu, “entahlah.”
Laki-laki itu diam sejenak mencerna jawaban abstain Je.
“Baiklah, apa kau mau pekerjaan?”
“Aku belum memikirkannya, aku masih pelajar.”
“O begitu,” katanya sambil mengangguk, namun tak mau mengerti.
Je lalu meneguk vodka dari sebuah cangkir kristal.
“Kau pakai apa untuk minum itu?”
“Ini?” tunjuk Je pada vodkanya.
Laki-laki itu mengangguk dan menunggu.
“Cangkir,” jawab Je logis.
“Maksudku, dengan apa kau bisa mendapatkan minuman itu?”
“Pastinya uang.”
“Pasti ayahmu bekerja keras sekali,” katanya sambil meneguk habis anggur racikan perompak Irlandia.
“Kalau uang fungsinya itu, sepertinya aku tidak terlalu membutuhkannya,” jawab Je.
Laki-laki itu menuangkan lagi anggurnya.
“Kau tahu apa rasanya uang itu?”
Je menggeleng, tidak mau tahu.
“Manis sekali, nak. Saking manisnya kau akan kecanduan, seperti tembakau atjeh ini yang seolah tidak pernah tumpas dari tanah merahnya, Mekah tiruan itu,” katanya menunjuk sebagian tembakau yang baru saja dibelinya.
“Hem, bendera merah putih sebenarnya hanya cocok untuk atjeh,” selorohnya.
“Dan seperti cerutumu itu,” sambung Je.
Laki-laki itu mengangguk-angguk sambil menghisap cerutunya. Je sedikit tertarik setelah sejenak terdiam dan berpikir.
“Menurutmu, uang itu apa?” tanya Je kemudian.
“Nak, disini mereka yang berbicara atas nama uang adalah orang-orang yang terpuji,” jawabnya, “ada uang ada pasar.”
Je tak mengerti.
“Kelicikan lebih gagah daripada kejujuran. Yang lebih licik dianggap lebih hebat. Yang tidak licik, dianggap lemah dan tidak berkualitas. Kelicikan itu bentuk perlawanan, dan perlawanan adalah keselamatan,” lanjutnya.
“Lalu kenapa harus ada uang?” tanya Je.
“Jack Cade,” katanya sambil mengangguk-angguk.
“Jack Cade?”
“Si pemberontak jelata itu,” katanya memberi petunjuk. Je belum mengangguk, tak paham.
“Henry keenam,” lanjutnya mengingatkan.
Je pun mengerti.
“Lalu dengan apa?” tanya laki-laki itu, “dengan nota dan struck kerja yang hanya bisa ditukarkan dengan pemerintah saja?”
Je terdiam.
“Kalau mengikuti prinsip sederajat sederhananya Jack Cade, si Athena Timon akan muncul lagi dan menggali bon-bon upah yang sudah terkubur,” lanjutnya.
Je tersenyum tipis.
“Dia jadi tidak lagi bersusah payah menggali emas-emas dan menggerutui janda-janda yang kawin lagi karena mampu membeli emas-emasnya,” katanya sambil terbahak-bahak.
Je mengangguk-angguk, menyetujui.
“Terkadang kerukunan bukan sesuatu yang tercipta dari kedamaian. Hakikat hidup itu sebenarnya berciri pertentangan,” katanya sesaat terdiam. Je menyimak.
“Terlalu dekat dengan kedamaian tanpa satu pun konflik, semakin memperbanyak peluang ketidakrukunan,” lanjutnya, “sama halnya kalau kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan teman yang itu-itu saja.”
“Guruku pernah menyeru, berilah nilai pada gambaranmu!” kenangnya, “dan aku merasa kerja dan usahaku tidak sia-sia karena aku melihat satu karakter angka di tepi gambaranku.”
Je menyimak. Ia cukup paham dengan maksud laki-laki itu.
“Uang sebenarnya adalah pembatasan, agar orang-orang serakah bisa tahu mana yang haknya dan mana yang bukan haknya. Tapi manusia itu sifatnya tak terbatas. Tak terbatas jumlahnya dan tak terbatas keinginannya, buktinya justru ada uang, semakin banyak yang suka makan hak orang, apalagi dia merasa mampu untuk mendapatkan yang lebih dari itu hanya dari stempel instansi. Kau tahu, seperti perangko itu,” lanjutnya.
Je mengangguk pelan. Laki-laki itu cukup sepadan untuk tetap bertahan di deras peradaban. Tapi tiba-tiba ia membuka kopernya. Mata Je terbelalak melihat setumpuk susunan psikotropika olahan yang dikemas rapi. Je membaca satu demi satu namanya, bukan seperti nama yang pernah didengarnya atau dikenal konsumen dunia. Soft Doctor untuk erythroxylon coca, Gory Gorilla untuk papaver somniverum, Coffee Habitue untuk etanol, Dead Marine untuk cannabis sativa, Noble Deed untuk amphetamine sulfate, Burn Pyre untuk arylcyclohexylamine, Rejuvenation untuk psikodelik, dan Sweet Viands untuk ansiolitik.
“Kau menjual benda terlarang ini?!” sergah Je terkejut.
“Kalau korupsi itu legal, kenapa berdagang dilarang?” jawabnya santai, berbisik.
“Tapi…, ini merugikan langsung pada individunya,” sergah Je lagi.
“Kenapa kau cemas? Merugikan massal itu kan lebih kejam dari pada perorangan, apalagi di bawah meja kerja,” kilahnya.
“Ini sesuatu yang tidak berguna,” tampik Je.
“Kau tahu kenapa ada pelacur?”
Je diam.
“Karena ada pria yang menganggapnya berguna,” jawabnya.
“Tapi menggunakan ini tindakan bodoh.”
“Yang bodoh biarkan mati, yang pintar ya tetap hidup, cukup kompromis bukan?”
“Tapi kau bisa dihukum mati karena ini,” kata Je sedikit mengancam.
“Hei nak, eksekusi mati itu bertentangan dengan konstitusi. Sudah saatnya kita menentang, membuktikan konsistensi mereka yang membuat perintah-perintah sok berimbang itu,” celotehnya, “lagipula ini bisa dihindari, kalau tidak mau ya jangan dibeli. Tapi kelicikan mereka itu, kerugiannya tidak bisa dihindari, siapa saja yang tidak punya kekuasaan dan uang akan kelaparan dan mati. Sangat brutal kan?”
Je benar-benar terdiam, mencoba menyingkirkan perasaannya dengan logika-logika yang disodori laki-laki itu.
“Kau tahu apa kata narasumber misterius Deep Throat yang coba diungkap paparazi Amerika?” tanyanya lagi.
Je menggeleng, kalah.
“Ya ya ya, tidak apa-apa. Tenang saja,” katanya sambil menepuk-nepuk pundak Je, “perkataan Deep Throat itu tidak berlaku disini karena korupsi sudah disyahkan undang-undang.”
Montase 11
JALANAN kota dihiasi spektrum-spektrum muda yang memar setelah sebelumnya padang-padang gurun meluas karena boreal-boreal dan vegetasi tundra menghilang dibawah langit altocumulus. Aspal yang baru saja basah menjadi panggung ribuan laron yang serentak menggumuli neon-neon untuk sekadar berhangat atau bosan dengan warna gelap. Laron-laron itu tidak pernah mampu hinggap di putih bulan. Sebagian dari mereka menari membentuk formasi prisma tak bersisi, sebagian lagi bercumbu dan bernyanyi, terdengar seperti petikan lagu Moonlight karya Debussy. Dan sebagian lagi hanya menonton.
Di bawah laron-laron itu, Porsche hitam tengah melintasi pemukiman, melintasi mereka yang tak perduli benda-benda lain kecuali cahaya neon. Terdengar suara Jhon Denver dan Je yang ikut melafal “all my memories gathered round her. Miners lady, stranger to blue water. Dark and dusty, painted on the sky. Misty taste of moonshine. Teardrops in my eye…,”
Ia melewati pemukiman itu meski selubung padat gulita dan sudut-sudut yang tak jelas dimana titiknya mulai menghitamkan cuaca. Cuaca yang tadinya berbau rahim dan kuning.
Tiba-tiba saja Je melihat sebuah rumah yang masih benderang dari sekian rumah yang padam. Je menepi, memarkirkan mobilnya di depan pagar dan terpacu mendekat seperti laron-laron itu. Terhipnos cahaya.
Seorang wanita kaukasoid muncul dari balik pintu.
“Hai, siapa kamu? Bisa saya bantu?”
“Ehm saya Je. Saya ingin tahu apa saya pernah kesini sebelumnya?”
“O saya tidak tahu karena saya belum pernah bertemu denganmu,” jawabnya.
Je tersenyum dalam keraguan.
“Kalau begitu saya salah alamat. Saya permisi dulu.”
“Hei tunggu! Pasti ada alasan kenapa kau bisa salah alamat. Iya kan?”
Je sesaat termangu sebelum akhirnya mengangguk.
Dia duduk di sofa krim bulu sambil melihat keadaan rumah wanita itu.
“Aku sedang mencari rumah,” kata Je.
“Mencari rumah? Kesini?” tanyanya, “kau tersesat?”
Je tak menjawab. Ia bingung dalam diam.
“Aku hanya mampir. Rumahku mungkin di arah sini.”
“Mungkin?” todongnya seperti sedang menginvestigasi, “kau seperti musafir saja.”
Je tersenyum kecil.
Wanita itu duduk di depan komputer yang sejak lama stand by, melanjutkan pekerjaan yang terhenti karena kedatangan Je. Mengetik sebuah tulisan panjang.
“Apa aku menganggumu?”
“Hanya jika kau mengajakku bercakap-cakap tentang sesuatu yang mengacaukan otakku,” katanya sambil mengusap-usap matanya di balik kacamata.
“Apa itu?”
“Seperti fashion yang lagi in sekarang ini atau urusan cinta,” jawabnya.
“Jadi kau bukan pecinta dan juga bukan fashionholic?”
“Ya begitulah. Fashionholic menganggap keindahan terletak pada pakaian dan lekuk tubuh, sedangkan pecinta menganggap cinta adalah segalanya, yang sebenarnya adalah penyumbat kesadaran yang paling ampuh.”
“Lalu untuk menghindari itu, apa yang kau lakukan?”
“Sejauh ini adalah pekerjaan.”
“Pekerjaan semacam apa?”
“Pekerjaan apa saja yang tidak berhubungan dengan yang tadi, misalnya menulis buku, menekuni dunia sastra, filsafat, atau menulis tentang sosial budaya. Tapi aku memilih menekuni dunia jurnalisme, ya karena aku bukan pengarang. Dan tentunya juga bukan jurnalisme konvensional.”
“Kenapa?”
Wanita itu tersenyum, “sudah kuduga kau akan menanyakan itu.”
Je menunggu.
“Pekerjaan ini bukan aku yang memilih, tapi jiwaku. Tidak ada kaitannya dengan kebutuhan hidupku. Tubuh dan organku hanya sebagai alat untuk memproduksi, otakku adalah prosesornya sedangkan jiwaku adalah mentor yang tiada matinya, “katanya.
“Seperti panggilan jiwa?”
“Iya kau tepat sekali.”
“Dan kau pasti sangat bahagia sekali,” kata Je, “apa kau juga gelisah seperti aku, yang tak pernah berhasil dalam hubungan cinta ?”
“Aku menikmati keduanya, kebahagiaan beserta kegelisahannya, karena kegelisahan yang kau maksud itu adalah suatu kebahagiaan bagiku. Banyak masalah dan kendala-kendala yang menyedihkan bisa kulupakan dengan menulis. Bahkan aku lebih memilih hidup sendiri,” katanya, “kau tahu, bagiku jurnalisme itu selangkah lebih dekat dengan agama.”
“Kenapa tidak menikah untuk sekadar meneruskan keturunan saja? Yang dengan manis orang bilang ibadah?”
“Kau terdengar seperti berasumsi bahwa menikah adalah tolak ukur keimanan seseorang. Seseorang punya alasan berbeda-beda yang tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan, kan?” tancap wanita itu.
“Iya, tapi kata-kata mereka tentang agama dan kata-katamu tentang agama itu terasa berbeda di telinga dan dipikiranku.”
“Mungkin karena kefanatikanku terhadap masalah-masalah dunia yang memiliki pesan khusus untuk kepentingan orang banyak, semacam pengabdian dan upaya menegakkan kebenaran,” katanya.
“O jadi kau orang yang sangat memikirkan kehidupan sosial tanpa sempat memikirkan kehidupan pribadi?”
“Kalau begitu menurutmu, kenapa harus bertanya? Dan kalau kau sudah menangkap semuanya, kenapa harus ada kata O?” jawabnya, “penghujatan dalam keterkejutan?”
Je terdiam sejenak. Ia merasa kalau wanita di hadapannya tidak hanya pandai menulis berita tapi juga menganalisa emosi manusia.
“Semua disebabkan jiwa ini, jiwa yang mampu menyingkirkan naluri berseni. Sebongkah semangat yang lebih panas dari seni. Masyarakat, bukan diri sendiri,” tambahnya.
“Entahlah,” jawab Je seakan tidak mengenali dirinya lagi atau memang tidak menyadari perkataan wanita itu.
“Jadi kau belum menyadari siapa dirimu hah?” Atau kau justru menyakinkan dirimu sendiri?” tanya wanita itu lagi.
“Mungkin keduanya.”
Baik wanita itu maupun Je diam. Wanita itu sedang berada di tengah kenikmatan untuk meraih klimaks. Ia semakin memacu otaknya sehingga sepuluh jarinya tampak lincah menari di keyboard. Je penasaran. Ia perlahan mendekat dan melihat, lalu mencoba merasakan sesuatu dari wanita itu. Kebergairahan.
“Apa yang bisa kau rasakan dari pekerjaan ini?”
Wanita itu belum menjawab. Masih fokus menulis.
“Baiknya aku pulang dulu. Maaf sudah mengganggumu,” kata Je sopan sembari perlahan mundur menuju pintu. Matanya masih belum bisa melepaskan sosok wanita itu. Untuk beberapa menit, tak ada gemingan.
“Penyelesaian,” katanya tiba-tiba tepat ketika tombol pull stop ditekannya, “aku akan merasa begitu kuat, kokoh, hebat, dan sangat puas jika aku bisa menyelesaikan tulisanku. Pikiran-pikiran ini yang seperti ingin dihidupkan menjadi serentet wacana, membuat aku tidak bisa berdiam saja. Justru jika diam, aku akan mati ditenggelamkan oleh pikiran-pikiranku sendiri,” katanya penuh dengan hikmat. Je termangu menyimak.
“Kau tahu, rasanya seperti kepuasan bersenggama, atau seperti ibu yang akan melahirkan,” tambahnya.
“Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus kuungkap dan jika tidak terungkap akulah yang akan menjadi misteri. Karena sesungguhnya sekecil apapun detail yang ada di bumi ini memiliki petunjuk, memiliki informasi, dan sebab akibat,” lanjutnya.
“Kau orang yang sangat dibutuhkan peradaban. Tumbal peradaban,” kata Je seiring nalarnya..
“Iya, tumbal yang memiliki kebebasan tak terbatas.”
Je melarut.
“Kau adalah muara. Perpaduan,” kata Je begitu saja, seakan tak menyadari kalimat yang dikeluarkannya. Je berada ditengah muara, antara sadar dan tidak sadar. Kesadaran rohani yang tengah membunuh kesadaran duniawi.
“Dua perbedaan ini bisa disatukan! Aku tidak perlu memilih. Aku akan tetap mempertahankan keduanya,” lanjut Je semakin cepat seiring sengat-sengat mikrocipnya yang menghantarkan hipotesa-hipotesa.
“Dua perbedaan apa?” tanya wanita itu tak mengerti.
Belum sempat mendapat jawaban, pintu sudah mengatup diri seiring kepergian Je yang berkelebat.
“Hei aku punya pilihan! Aku tetap memilih hidup tanpa kekerasan!” teriaknya pada Je.
Jalanan lengang. Laron-laron sudah serupa neon. Tak ada satu pun orion.
Montase akhir
PERUT buncit langit belum juga pecah setelah berkali-kali ditusuk petir dan kilat. Titisan-titisan samudra yang berabad-abad ditawan spektrum kuning surya nyaris muncat. Mungkin karena memang bukan takdirnya atau hanya berusaha bertahan sekuatnya. Tak rela atau memang tidak tega. Malu atau memang tidak mampu. Entahlah. Hanya kadang samudra menyeru atas kehilangannya yang tercerap habis matahari. Demi sebuah hari. Tapi ia tetap saja terpaku dan terus bergulir dalam poros waktu yang tak kan pernah selesai. Layaknya saat ini, saat Je merasakan enzim-enzim liurnya menggumpal beku di tengah tenggorokan. Semakin tertahan semakin membesar. Tepat ketika Mada dan Eva berciuman.
Dan langit pun benar-benar pecah.
“Aku kira selama ini kita teman, Eva,” sorot Je menyirip dalam kuyup.
Mada dan Eva sontak terdiam, tegang.
“Jadi ini, fakta atas keraguanku?” kata Je nanar.
Mada mulai gelisah. Ia sendiri tidak tahu berhak atau tidak berhak, dirinya atau Je, yang marah.
“Kita sama Je. Kau dan aku sama saja,” kata Eva dengan aura ketidakperdulian.
“Kau tidak percaya padaku! Apa yang kau katakan adalah apa yang pernah dikatakan Mada padaku. Kalian membicarakan aku dan sepakat untuk menyimpulkan aku pembohong! Konspirasi yang sempurna sekali,” sinis Je.
“Kau memang pembohong, Je!” ketus Mada, “kau tidak benar-benar menginginkan aku. Dan sekarang kau pertemukan aku dengan Eva hanya untuk merasakan kecewa yang akan memperdalam kebencianmu itu, kekejamanmu itu! Iya kan? Oh pasti nikmat sekali rasanya. Bahagia hah?” sergahnya.
“Untuk cinta, Mada. Karena rasa cinta,” kata Je.
Mada tersentak.
“Apa kau mau mencintaiku agar kita bisa terus bersama?” tanya Je lirih.
Mada terdiam. Sesekali melirik Eva yang sinis.
“Bagaimana dengan Eva?” tanyanya meragu.
Je pun melihat Eva.
“Apa kau yakin kau seperti aku, Eva?”
Eva belum menjawab.
“Kalau kau memang sepertiku, mungkin kau lebih butuh Mada daripada aku.”
Mada tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu kalau Eva memang memiliki kemiripan dengan Je, tapi tak sekompleks Je.
“Ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan keputusanmu tadi, Je. Kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya. Kau tidak adil padaku, membuatku bingung dan harus memutuskan dengan tiba-tiba,” kata Mada cemas menuntut keadilan, “kau mau aku bagaimana? Katakan Je!”
Je diam cukup lama, menunggu Eva.
“Kau tidak bisa melupakan aku, Mada. Kita tidak bisa dipisahkan lagi,” kata Eva.
Mada masih menyorot Je, tak sedikitpun melihat Eva.
“Kau mau aku bersamanya, Je? Kau mau Eva bersamaku?” tanya Mada memburu.
Je perlahan melihat tatapan mata Mada yang mencorong sendu. Je tertunduk, tak tahan melihat Mada yang sudah lelah dan kecewa.
“Kau tidak kejam Je. Kau hanya terus mencoba menutupi kesedihanmu dariku dan itu tidak hanya menyiksamu tapi juga menyiksaku,” lirih Mada, “kita masih punya banyak waktu dan aku akan membuatmu tak terpisahkan denganku. Bukankah kita memang sudah begitu?”
Tiba-tiba Eva menyela, “kau tidak bersamanya Mada. Kau sudah bersamaku. Kau tidak bisa mengabaikan aku!”
“Diam!” teriak Mada pada Je yang tertunduk. Tanpa menoleh pada Eva, “Jangan temui aku lagi Je. Jangan pernah temui aku lagi.”
Mada perlahan mundur meninggalkan Je.
“Kenapa kau selalu menentangku? Kenapa tidak kau turuti saja aku? Kenapa kau yang malah membuatku ragu dan merasa ini adalah percobaan sehingga harus aku pikirkan terlebih dahulu sebelum memulainya? Kenapa aku tidak bisa menentukan dan memutuskan apa yang sebenarnya aku mau?” tanya Je.
“Tanyakan pada dirimu sendiri!” kata Mada sembari pergi.
“Mada! Mada! Mada!” panggil Je, “aku benci terus berdebat. Aku sudah capek! Hentikan itu semua. Jangan buat aku begini,” kata Je keras hingga memelas.
Mada terhenti.
“Aku tidak tahu apa-apa, Mada. Aku benci dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Selalu dan selalu menderaku. Tolong jangan buat aku begini,” ulangnya sambil terduduk di hadapan Mada.
Mada pun luluh, merengkuh.
“Aku juga tidak tahu sayang,” bisiknya hangat, “kau juga membuatku seperti itu. Segala jawaban-jawabanmu yang tidak kumengerti. Kehendak-kehendakmu itu, keberadaanku yang kau tempatkan di sudut netral ini, dan Eva,” tahannya, “terlalu banyak opsi untukku.”
“Itulah masalahnya, sudut pandang.”
“Apa ada akhirnya?”
Je menggeleng perlahan, pasrah, “aku tidak tahu.”
Mada menelan ludah. Ia lalu melihat Eva, mencoba menghargai keberadaannya dan berusaha melewati semua yang akan terjadi, semua yang diinginkan sang kekasih. Perlahan Mada melepaskan dekapannya dan menghampiri Eva yang terdiam.
“Maaf mengacuhkanmu,” kata Mada lembut, “apa yang kau inginkan dariku, Eva?”
Eva perlahan mengembalikan wajahnya ke Mada. Mencoba memaklumi.
“Apa kebencian itu akan mampu menumbuhkan cinta?”
Sontak Mada tersadar. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Mada dan Je tak menyadari bahwa cinta tengah merayap menikahi.
***
“Elsya, bangun Elsya! Saatnya kau makan, sayang,” kata seorang laki-laki bernama Kim yang berwajah Mada memegang semangkuk bubur dan secangkir susu coklat hangat.
Dedaunan kering atas hari yang hendak berganti musim berserakan di teras, terhempas oleh angin kelat, menyapu kepingan keripik ubi yang terhambur dari kemasan keripik kentang. Mengotori lantai. Stempel hologram dan lisensi halal di kemasannya mungkin membuat keraguan perempuan itu terabaikan, tapi lidahnya yang kelu telah berhasil mengeluarkannya dari permainan itu. Dengan bibirnya yang berlumuran remah-remah keripik, ia masih menatap dunia dengan ambigu meski sosok janin di perutnya tak sabar menunggu. Lahir dan berjelajah. Secarik kertas di pangkuannya adalah lagi-lagi sebuah wacana; sederet nama dengan dialognya.
“Siapa Je, Elsya?”